SUMENEP, MaduraPost - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Madura, Jawa Timur, kembali mengandalkan Festival Musik Tongtong sebagai magnet wisata dalam perayaan Hari Jadi ke-757.

Kesenian perkusi khas Madura itu diproyeksikan menjadi pintu masuk untuk mengenalkan identitas budaya Sumenep kepada khalayak yang lebih luas.

Bukan sekadar panggung hiburan, festival tersebut menyimpan potensi untuk menggerakkan sektor pariwisata sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Apalagi, Musik Tongtong telah tercatat dalam Karisma Event Nusantara (KEN), program nasional yang mendorong promosi berbagai acara unggulan di Indonesia.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep, Faruk Hanafi, menilai peringatan hari jadi daerah semestinya tidak berhenti pada perayaan tahunan.

Momen ini perlu dimanfaatkan untuk memperkuat kebudayaan lokal sekaligus memperkenalkan potensi daerah kepada wisatawan.

“Musik Tong-tong merupakan salah satu kekuatan budaya Sumenep yang harus terus kita jaga dan kembangkan. Event ini bukan hanya hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi sarana promosi pariwisata dan identitas daerah,” ujar Faruk, Minggu (11/10).

Masuknya Festival Musik Tongtong dalam KEN menjadi salah satu modal bagi Sumenep untuk memperluas jangkauan promosi.

Dengan pengemasan yang menarik dan dukungan berbagai pihak, kesenian tradisional tersebut berpeluang menjangkau penonton dari luar Madura.

Namun, perayaan Hari Jadi Sumenep tak hanya bertumpu pada kemeriahan festival. Sejumlah agenda lain turut mengangkat sisi historis dan tradisi yang membentuk identitas daerah, termasuk Haul Raja-Raja Sumenep serta prosesi Arya Wiraraja.

Ketiga agenda itu menghadirkan warna berbeda dalam satu rangkaian peringatan. Musik Tongtong menawarkan pertunjukan seni yang meriah, sementara haul para raja dan prosesi Arya Wiraraja mengajak masyarakat menengok kembali perjalanan sejarah Sumenep.

Bagi Faruk, perpaduan kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mempertemukan pelestarian tradisi dengan pengembangan pariwisata.

Kekayaan budaya daerah diharapkan tidak hanya dikenal oleh masyarakat setempat, tetapi juga menarik perhatian pengunjung dari berbagai wilayah.

Ia menekankan, keberhasilan sebuah acara budaya tidak semata-mata diukur dari ramainya penonton ketika berlangsung.

Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat berkelanjutan, mulai dari memperkuat kebanggaan terhadap warisan leluhur hingga mendorong perputaran ekonomi warga.

“Harapan kami, kegiatan budaya seperti ini terus mendapat dukungan masyarakat. Selain menjaga warisan leluhur, kita ingin semakin banyak orang mengenal Sumenep melalui kekayaan seni, sejarah, dan tradisinya,” tandasnya.

Dengan mempertahankan agenda budaya sebagai bagian dari perayaan hari jadi, Pemkab Sumenep berharap kekayaan tradisi daerah dapat menjadi daya tarik yang terus tumbuh.

Tantangannya, kemeriahan acara perlu diikuti promosi yang berkelanjutan agar manfaatnya tidak berhenti ketika perayaan usai.***