SUMENEP, MaduraPost - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Madura, Jawa Timur, mulai mendorong pesantren menjadi salah satu ruang tumbuh bagi wirausaha muda.
Langkah itu diwujudkan melalui program Santri Entrepreneur 2026 yang diluncurkan di Pondok Pesantren Ar-Ruhama, Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, Selasa (6/10/2026).
Program yang digagas melalui Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep tersebut tidak sekadar diarahkan untuk mengenalkan dunia usaha kepada santri.
Lebih jauh, program ini ditujukan agar para santri mampu membaca potensi ekonomi di lingkungan pesantren maupun desa tempat mereka tinggal.
Wakil Bupati (Wabup) Sumenep, K.H. Imam Hasyim mengatakan, kreativitas santri perlu mendapat ruang agar dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang produktif.
“Melalui kegiatan ini, kami membuka ruang bagi kaum santri untuk menunjukkan kreativitasnya dan memberikan akses yang cukup untuk melakukan improvisasi ide kreatifnya,” ucapnya, Selasa (6/10/2026).
Menurut Kiai Imam, perkembangan ekonomi yang semakin terbuka, termasuk pergeseran aktivitas usaha ke ruang digital, menuntut generasi muda memiliki kemampuan beradaptasi. Santri dinilai memiliki peluang yang sama untuk mengambil bagian dalam perkembangan tersebut.
Karena itu, Santri Entrepreneur 2026 diharapkan dapat melahirkan generasi santri yang tidak hanya memiliki pengetahuan keagamaan, tetapi juga mampu membangun usaha secara mandiri.
“Upaya ini diharapkan dapat menghasilkan wirausaha muda di kalangan santri guna mengelola potensi yang ada di sekitar pesantren dan masing-masing desa,” imbuhnya.
Politisi PKB itu juga mengingatkan agar santri tidak hanya ditempatkan sebagai pasar atau pengguna berbagai produk. Menurutnya, santri harus mulai mengambil peran sebagai pelaku ekonomi dengan menciptakan produk yang memiliki nilai jual.
“Santri tidak boleh hanya menjadi konsumen, tapi juga harus jadi produsen. Oleh karena itu, tunjukkan kemampuan kalian kepada dunia bahwa kalian bisa meraih posisi yang tinggi dengan tekad yang tinggi juga,” ucapnya kepada para santri.
Ia kemudian meminta para peserta tidak menganggap pelatihan tersebut sekadar agenda seremonial. Seluruh tahapan, kata dia, perlu diikuti dengan kesungguhan agar keterampilan yang diperoleh dapat benar-benar diterapkan setelah program berakhir.
Sementara itu, Disbudporapar Sumenep menyiapkan sejumlah materi praktik usaha dalam Santri Entrepreneur 2026. Pelatihan tersebut meliputi budidaya ikan lele, pengolahan bawang merah, pembuatan gula merah semut, hingga pengelolaan usaha angkringan.
Beragam materi itu diarahkan untuk mengenalkan pilihan usaha yang dapat dikembangkan dengan memanfaatkan potensi lokal di sekitar pesantren dan desa.***