SUMENEP, MaduraPost - Permintaan maaf kepada keluarga belum menjawab pertanyaan utama di balik kematian Moh. Firman Ramadhani di RS Baghraf Health Care (BHC) Sumenep, Madura, Jawa Timur.
Hingga Sabtu (17/10/2026), penyebab kematian pasien itu belum diterangkan secara medis kepada publik, sementara hasil pemeriksaan internal rumah sakit masih dinyatakan belum selesai.
Situasi tersebut memantik kritik dari tokoh hukum sekaligus aktivis Sumenep, Zamrud Khan. Ia meminta BHC Sumenep tidak sekadar menyampaikan pernyataan umum, tetapi menjelaskan pertanggungjawaban pelayanan yang diberikan kepada Firman sebelum meninggal dunia.
Bagi Zamrud, persoalan mendasarnya bukan hanya apakah rumah sakit telah menjalankan prosedur. Publik juga perlu mengetahui apakah tindakan medis yang diberikan sudah sesuai dengan kondisi pasien dan dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan kompetensi yang tepat.
“Ini ada pasien yang meninggal, apakah proses penanganannya itu secara maksimal? Itu yang pertama. Yang kedua, pada saat penanganan itu apakah ditangani oleh dokter-dokter yang kompetensinya berkaitan langsung dengan penyakit pasien,” kata Zamrud kepada MaduraPost melalui sambungan telepon, Sabtu siang di Sumenep.
Ia menilai, tanpa penjelasan mengenai dua hal tersebut, keluarga akan kesulitan memperoleh gambaran utuh tentang pelayanan yang diterima Firman.
Pernyataan bahwa tindakan medis sudah sesuai standar, menurut dia, tidak semestinya menjadi jawaban akhir sebelum rangkaian kejadian diperiksa secara menyeluruh.
“Tidak boleh pihak-pihak itu menganggap benar karena tindakan medis. Ini menyangkut nyawa seseorang, nyawa pasien yang harus diprioritaskan,” katanya.
Zamrud menegaskan, kepentingan pasien harus menjadi pijakan utama dalam menilai pelayanan rumah sakit. Ia mengingatkan bahwa masyarakat mendatangi fasilitas kesehatan dengan harapan mendapatkan pertolongan, sehingga setiap tindakan yang diberikan harus dapat dipertanggungjawabkan.