Keluarga juga mempertanyakan kondisi infus yang disebut mengalami kemacetan sebelum dimatikan ketika Firman muntah-muntah. Mereka mengaku melihat perubahan warna kulit serta kondisi bibir dan gusi korban menjelang kematiannya.
Keterangan tersebut masih berupa pengakuan keluarga dan belum terverifikasi secara medis. Belum ada hasil pemeriksaan yang memastikan penyebab munculnya busa, material yang ditemukan di hidung, maupun kaitannya dengan suntikan yang diberikan kepada Firman.
Meski demikian, rangkaian kejadian itu membuat keluarga mempertanyakan tindakan medis yang dilakukan pihak rumah sakit. Mereka ingin mengetahui jenis obat yang diberikan, alasan infus dimatikan, serta tindakan yang dilakukan ketika Firman mengalami muntah dan kejang.
“Padahal sebelum disuntik, Firman sudah enakan, bahkan main HP,” kata anggota keluarga tersebut.
Keluarga mengaku sempat meminta penjelasan kepada petugas rumah sakit setelah Firman dinyatakan meninggal. Namun, pertanyaan mengenai perubahan kondisi pasien hingga akhirnya meninggal belum mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Kasus ini pun memunculkan dugaan malapraktik. Namun, dugaan tersebut masih membutuhkan pemeriksaan medis dan penelusuran menyeluruh untuk memastikan apakah terdapat kesalahan dalam penanganan pasien.
Di tengah pertanyaan yang belum terjawab, seorang pegawai RS BHC berinisial I justru menyatakan bahwa penanganan pasien telah sesuai standar operasional prosedur (SOP). Pernyataan itu disampaikan melalui percakapan WhatsApp pada Jumat, 16 Oktober 2026.
“Yang penting BHC sudah sesuai SOP,” tulis I.
Dalam percakapan yang sama, I menanggapi kematian Firman.