"Setelah disuntik, pasien muntah-muntah. Lalu perawat itu bilang agar diselesaikan dulu muntahnya. Infus saat itu macet, akhirnya dimatikan oleh perawat saat pasien muntah-muntah," tambahnya.

Keluarga mempertanyakan keputusan mematikan infus ketika pasien sedang muntah-muntah. Mereka juga mempersoalkan tindakan petugas setelah kondisi Firman disebut semakin memburuk.

Roni mengatakan, perawat tersebut kemudian meninggalkan pasien untuk menangani pasien lain. Situasi yang dialami Firman disebut semakin mengkhawatirkan. Bibi pasien melihat Firman mengalami kejang-kejang dan mengeluarkan busa dari mulutnya.

Keluarga mengaku telah berusaha meminta bantuan perawat yang menangani pasien. Namun, menurut Roni, panggilan tersebut tidak mendapat respons sebagaimana yang mereka harapkan.

"Melihat kondisi D kejang-kejang dan mengeluarkan busa, bibi D memanggil perawat yang menangani untuk menginformasikan kondisi yang dialami korban Namun karena tidak direspons, bibi D kembali ke kamar," katanya.

Roni menuturkan, kondisi Firman kemudian semakin memburuk. Ia menyebut terdapat cairan berbusa dari hidung dan mulut, sementara wajah serta bibir pasien menghitam sebelum akhirnya meninggal dunia.

"Bisa uang keluar dari hidung kanan berwarna merah dan yang kiri hitam. Muka dan bibirnya menghitam, matanya melotot dan kejang-kejang lalu meninggal sekitar pukul 06.00 WIB," bebernya.

Keterangan keluarga tersebut menimbulkan pertanyaan serius mengenai apa yang terjadi selama rentang waktu antara pemberian suntikan dan kematian pasien.

Apakah kondisi pasien telah dievaluasi sebelum obat diberikan? Apa jenis obat yang disuntikkan? Dan bagaimana respons petugas ketika pasien mengalami gejala yang disebut keluarga?