SUMENEP, MaduraPost - Layanan pengiriman J&T Cargo di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, dikeluhkan pelanggan. Mohammad Madani (35), warga Desa Duko, Kecamatan Rubaru, mempersoalkan pengantaran tiga barang miliknya dari Surabaya yang menurutnya sudah dibayar hingga alamat rumah, tetapi masih diminta biaya tambahan.
Madani mengatakan, tiga barang tersebut dikirim dari Surabaya pada Senin (5/10/2026). Total biaya pengiriman seluruh barang disebut mencapai lebih dari Rp1 juta. Ia memastikan biaya tersebut dibayarkan untuk pengiriman sampai ke rumahnya di Desa Duko, bukan sekadar sampai kantor J&T Cargo.
Karena jumlah barang cukup banyak dan ukurannya besar, kurir kemudian menghubungi istri Madani yang berada di rumah sebagai penerima.
Dalam komunikasi tersebut, menurut Madani, kurir menyampaikan bahwa pengantaran tiga barang ke rumah hanya menghasilkan komisi sekitar Rp1.000. Pernyataan itu menjadi salah satu hal yang membuatnya kecewa.
"Kalau nganter 3 barang itu ke rumah saya hanya dapat komisi Rp1 ribu rupiah, itu sama halnya seperti ngantar paket kecil lainnya," ujar Madani menirukan ucapan kurir, Rabu (7/10) sore.
Ia juga menyayangkan cara kurir membandingkan barang miliknya dengan paket lain yang berukuran lebih kecil. Menurut Madani, persoalan mengenai ukuran dan jumlah barang seharusnya bisa disampaikan dengan komunikasi yang lebih baik kepada pelanggan.
Apalagi, kata dia, kurir kemudian meminta tambahan biaya apabila barang tetap ingin diantarkan ke rumah.
"Saya bilang, saya kan sudah bayar sesuai dengan alamat rumah saya, kok masih diminta uang tambahan lagi. Kurir semacam itu saya rasa kurang elok," katanya.
Madani menilai, apabila memang terdapat kendala armada, seharusnya persoalan tersebut disampaikan sejak awal dan dicarikan solusi bersama.
"Andaikan dari awal ngomong ke saya, misal, Pak ini mobil saya tidak muat, gimana kalau saya sewakan mobil lain tapi bapak nambah uang, nggak ada masalah andai ngomong begitu sedari awal," ujarnya.
Menurut Madani, dirinya sebenarnya memiliki mobil pikap yang dapat digunakan untuk mengambil barang tersebut. Namun, ia memilih menggunakan jasa pengiriman karena alamat tujuan yang dicantumkan adalah rumahnya.
Ia menegaskan, persoalan utama bukan semata soal tambahan biaya, melainkan cara komunikasi kurir yang menurutnya kurang baik.
"Permasalahannya, dia (kurir J&T Cargo, red) membanding-bandingkan barang saya karena banyak, barang saya karena gede, kemudian dibanding-bandingkan dengan paket lain, kalau mengantar ke rumah saya itu hanya dapat komisi dari pekerjaannya Rp1 ribu rupiah dengan mengantar paket milik orang lain sekecil apapun itu. Itu yang sangat saya kecewakan," katanya memaparkan.
Madani kemudian meminta pihak J&T Cargo, baik di Sumenep maupun tingkat pusat, mengevaluasi persoalan tersebut.
"Saya meminta kepada J&T Cargo dari Sumenep hingga pusat, pecat aja kurir semacam itu, cara komunikasinya nggak baik," tegasnya.
Ia juga berharap perusahaan memiliki armada yang sesuai untuk mengangkut barang berukuran besar. Menurutnya, kendaraan seperti Toyota Innova merupakan kendaraan penumpang dan tidak ideal digunakan untuk mengangkut barang tertentu, seperti kulkas.
"Saya berharap juga, J&T Cargo agar memiliki mobil yang sesuai untuk mengangkut barang. Kalau mobilnya Innova, itu bukan mobil barang, itu mobil penumpang, jadi jangan salah tempat," ujarnya.
Madani mengaku tidak mempermasalahkan apabila perusahaan mengalami kendala teknis dalam proses pengiriman. Ia hanya meminta barang yang telah dibayar untuk dikirim sampai ke alamat tujuan dengan kondisi baik.
"Saya ingin, barang itu tetap diantar ke rumah saya, dan barang tidak ada yang lecet sampai ke tempat tujuan," tegasnya.
Sementara itu, penjelasan dari kurir J&T Cargo disampaikan melalui voice note yang dikirim kepada Madani lewat WhatsApp saat keduanya berkomunikasi terkait pengiriman tersebut.
Dalam voice note tersebut, kurir menjelaskan bahwa saat itu terdapat keterbatasan armada karena beberapa kendaraan sedang digunakan untuk mengantar barang ke sejumlah wilayah.
"Di sini Pak, mobil ada 3, satunya itu ke Batuputih, besar-besar yang dimuat, ada bonsai dan semacamnya. Kalau mobil satunya ke Prancak. Banyak-banyak itu sekarang event," ujar kurir dalam voice note tersebut.
Kurir kemudian meminta Madani menyampaikan keluhan langsung kepada pihak kantor J&T Cargo di Kecamatan Manding agar persoalan tersebut dapat dicarikan solusi.
"Kalau memang sampeyan itu mau komplain ke kantor saja. Cari solusinya gimana enaknya. Lebih jelasnya sampeyan nanti ke kantor Manding," katanya.
Terkait permintaan tambahan ongkos, kurir menjelaskan bahwa biaya tersebut diperlukan apabila harus mencarikan kendaraan lain untuk mengantarkan barang ke rumah Madani.
"Tambahan ongkos itu Pak untuk saya cari mobil. Kalau misal nggak ada mobil, paketnya sampeyan ada di sini," ujarnya.
Kurir juga menyebut salah satu barang yang akan dikirim merupakan kulkas. Sementara kendaraan yang tersedia saat itu adalah Toyota Innova.
"Barang sampeyan kan kulkas, sementara mobil saya itu Innova, kalau dimiringkan takut rusak. Ya nggak apa-apa kalau sampeyan tetap maunya dikirim, saya kirim, tapi kalau rusak saya tidak tanggung jawab," kata kurir.
Dalam voice note tersebut, kurir juga menyampaikan bahwa ada pelanggan lain yang memberikan uang tambahan kepada kurir ketika barang diantar ke rumah.
"Banyak ini paket yang diantar dan kami dapat support, ngasih uang Rp100 ribu ke kurirnya. Kalau ada tambahan, saya antar ke rumah sampeyan," ujarnya.
Kurir menyebut persoalan tersebut berkaitan dengan arahan dari pihak kantor dan meminta Madani menyampaikan keberatan secara langsung kepada perusahaan.
"Saya dari atasan sudah begitu pak dari kantor. Kalau sampeyan mau komplain ke kantor aja, bukan saya tidak mau antar. Viralkan kata-kata saya nggak apa-apa, saya sudah kasih tahu dari atasan saya sendiri," katanya.***