SAMPANG, MaduraPost — Konflik antara nelayan Banyuates dan Petronas kembali memanas. Puluhan nelayan yang tergabung dalam Persatuan Nelayan Banyuates Bangkit (PNBB) menggelar aksi di pesisir Desa Masaran, Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang, Jawa Timur. Selasa (18/08/2026). 

Aksi itu menyoroti persoalan kompensasi atau ganti rugi rumpon yang hingga kini dinilai belum menemukan penyelesaian. Bagi nelayan, persoalan tersebut bukan sekadar soal nilai kompensasi, tetapi menyangkut hak masyarakat pesisir yang terdampak aktivitas proyek migas. 
 

Massa semula berencana mengerahkan kapal menuju kawasan pengeboran Sumur Hidayah di perairan Desa Batioh. Namun, rencana tersebut dibatalkan dengan alasan menjaga situasi tetap kondusif. 
 

Koordinator lapangan aksi, Faris Reza Malik, mengatakan sekitar 100 kapal sebenarnya telah disiapkan untuk bergerak ke kawasan pengeboran. 
 

“Ada sekitar 100 kapal yang direncanakan berangkat hari ini. Namun, karena kita menghargai kondusivitas wilayah, akhirnya kita berorasi di sini dan menyampaikan tuntutan,” ujar Faris. 
 

Meski aksi laut ditunda, nelayan tidak mencabut tuntutannya. Mereka justru memberikan batas waktu kepada Petronas agar persoalan kompensasi rumpon segera memperoleh kepastian. 
 

Faris menyebut, jika hingga 21 Agustus 2026 tidak ada penyelesaian konkret maupun pertemuan yang menghasilkan kepastian, nelayan berpotensi kembali menggelar aksi dengan skala lebih besar. 
 

“Jangan salahkan kami jika Petronas tidak segera menyelesaikan kompensasi ganti rugi rumpon. Nelayan bisa kembali turun ke laut untuk menyampaikan tuntutan secara langsung,” tegasnya.

Menunggu Janji Pertemuan Petronas