OPINI, MaduraPost - Hari Raya Idul Adha selalu datang dengan suasana yang berbeda. Sejak gema takbir berkumandang pada malam hari, umat Islam seakan diajak kembali menyusuri lorong sejarah ribuan tahun silam. Sejarah tentang pengorbanan, cinta, keikhlasan, dan ketundukan seorang hamba kepada Tuhannya.
Di berbagai sudut kampung, suara sapi dan kambing terdengar bersahutan. Anak-anak kecil berlarian di sekitar masjid, sementara orang dewasa sibuk mempersiapkan penyembelihan hewan kurban. Aroma sate mulai tercium dari dapur-dapur rumah warga. Namun di balik semua kemeriahan itu, Idul Adha sejatinya menyimpan pesan spiritual yang sangat dalam.
Hari raya kurban bukan sekadar tradisi tahunan atau seremoni keagamaan biasa. Ia adalah warisan sejarah panjang dari perjalanan hidup Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Kisah yang hingga hari ini tetap hidup dalam ingatan umat manusia.
Nabi Ibrahim dikenal sebagai sosok pencari kebenaran. Di masa mudanya, ia hidup di tengah masyarakat yang menyembah berhala. Ketika orang-orang tunduk kepada patung-patung buatan tangan manusia, Ibrahim justru mempertanyakan semuanya. Ia mencari Tuhan yang benar-benar Maha Kuasa.
Pencarian panjang itu akhirnya membawanya kepada keyakinan terhadap Allah SWT. Sejak saat itulah hidup Ibrahim dipenuhi ujian. Ia dibakar oleh Raja Namrud karena menolak penyembahan berhala. Ia meninggalkan kampung halamannya demi mempertahankan iman. Bahkan di usia senjanya, ia masih diuji dengan penantian panjang untuk memiliki keturunan.
Bertahun-tahun Nabi Ibrahim hidup tanpa anak. Hingga akhirnya Allah mengaruniakan seorang putra bernama Ismail. Kehadiran Ismail bukan hanya kebahagiaan bagi Ibrahim dan Siti Hajar, tetapi juga menjadi jawaban dari doa panjang yang dipanjatkan dengan penuh harap.
Namun ketika cinta seorang ayah kepada anaknya sedang tumbuh begitu besar, datanglah ujian yang paling berat.
Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya sendiri.
Perintah itu hadir melalui mimpi yang diyakini para nabi sebagai wahyu. Bagi manusia biasa, mungkin perintah tersebut terasa mustahil dijalankan. Tidak ada orang tua yang sanggup kehilangan anak yang begitu dicintainya. Terlebih Ismail adalah anak yang lahir setelah penantian panjang dan pengorbanan besar.
Tetapi di situlah letak kemuliaan Nabi Ibrahim. Ia tidak membantah perintah Tuhan. Meski hatinya hancur, ia tetap memilih taat.
Al-Qur’an menggambarkan momen itu dengan sangat menyentuh. Nabi Ibrahim menyampaikan mimpi tersebut kepada Ismail, bukan dengan paksaan, tetapi dengan kelembutan seorang ayah.
Dan jawaban Ismail menjadi salah satu kalimat paling menggetarkan dalam sejarah umat manusia.
“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Jawaban itu menunjukkan bahwa keimanan telah tumbuh dalam diri Ismail sejak kecil. Ia memahami bahwa cinta kepada Allah berada di atas segalanya, bahkan di atas nyawa sekalipun.
Bayangkan suasana saat itu. Seorang ayah menggenggam pisau dengan tangan gemetar. Seorang anak muda berserah diri dengan penuh ketenangan. Tidak ada teriakan. Tidak ada perlawanan. Yang ada hanyalah ketundukan total kepada Tuhan.
Tetapi Allah SWT Maha Pengasih. Ketika Nabi Ibrahim benar-benar membuktikan keikhlasannya, Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba. Dari peristiwa itulah lahir syariat kurban yang terus dijalankan umat Islam hingga sekarang.
Kisah tersebut sesungguhnya bukan tentang darah atau penyembelihan semata. Allah tidak membutuhkan daging maupun darah hewan kurban. Yang ingin diuji adalah hati manusia.
Seberapa besar manusia mampu ikhlas.
Seberapa kuat manusia mampu melepaskan sesuatu yang paling dicintainya demi menjalankan perintah Tuhan.
Di zaman modern seperti sekarang, makna Idul Adha sering kali bergeser. Banyak orang memandang kurban hanya sebagai ritual tahunan. Bahkan tidak sedikit yang menjadikannya ajang pencitraan sosial. Foto hewan kurban dipamerkan di media sosial, nama-nama donatur diumumkan besar-besaran, sementara nilai keikhlasan perlahan mulai memudar.
Padahal inti dari kurban bukan terletak pada besar kecilnya sapi yang disembelih. Bukan pula pada mahalnya harga hewan kurban. Makna terbesar dari Idul Adha adalah bagaimana manusia mampu menyembelih sifat tamak, egoisme, dan cinta dunia yang berlebihan dalam dirinya sendiri.
Karena sesungguhnya setiap manusia memiliki “Ismail”-nya masing-masing.
Ada orang yang terlalu mencintai hartanya hingga lupa berbagi. Ada yang terlalu mengejar jabatan sampai menghalalkan segala cara. Ada pula yang terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa kepada keluarga, agama, dan kemanusiaan.
Di situlah Idul Adha menjadi momentum refleksi. Bahwa hidup tidak hanya tentang memiliki, tetapi juga tentang melepaskan dengan ikhlas.
Di Madura, suasana Idul Adha memiliki warna tersendiri. Tradisi gotong royong masih terasa kuat. Warga bersama-sama membantu proses penyembelihan hewan kurban. Para pemuda mengangkut daging, ibu-ibu menyiapkan konsumsi, sementara anak-anak dengan wajah ceria menunggu pembagian daging.
Ada kebersamaan yang sulit ditemukan pada hari-hari biasa.
Hari Raya Kurban juga menjadi pengingat tentang pentingnya solidaritas sosial. Di hari itu, kaum miskin ikut merasakan kebahagiaan. Mereka yang jarang menikmati daging bisa makan bersama keluarga dengan penuh suka cita. Islam mengajarkan bahwa ibadah tidak boleh berhenti pada hubungan dengan Tuhan saja, tetapi juga harus menghadirkan manfaat bagi sesama manusia.
Karena itu, Idul Adha sejatinya bukan hanya tentang penyembelihan hewan. Ia adalah perayaan kemanusiaan. Tentang bagaimana manusia belajar berbagi, belajar ikhlas, dan belajar menempatkan cinta kepada Tuhan di atas segala kepentingan dunia.
Kisah Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa jalan menuju keimanan tidak pernah mudah. Selalu ada pengorbanan yang harus diberikan. Selalu ada ujian yang mengukur ketulusan hati manusia.
Dan hingga hari ini, ribuan tahun setelah peristiwa itu terjadi, gema pengorbanan Nabi Ibrahim masih terus hidup dalam setiap takbir yang berkumandang di Hari Raya Idul Adha.
Di setiap tetes darah hewan kurban, tersimpan sejarah panjang tentang cinta seorang ayah, keteguhan seorang anak, dan kasih sayang Tuhan kepada umat manusia.
Catatan Opini: Imron Muslim
Kordinator Liputan MaduraPost