Seberapa kuat manusia mampu melepaskan sesuatu yang paling dicintainya demi menjalankan perintah Tuhan.
Di zaman modern seperti sekarang, makna Idul Adha sering kali bergeser. Banyak orang memandang kurban hanya sebagai ritual tahunan. Bahkan tidak sedikit yang menjadikannya ajang pencitraan sosial. Foto hewan kurban dipamerkan di media sosial, nama-nama donatur diumumkan besar-besaran, sementara nilai keikhlasan perlahan mulai memudar.
Padahal inti dari kurban bukan terletak pada besar kecilnya sapi yang disembelih. Bukan pula pada mahalnya harga hewan kurban. Makna terbesar dari Idul Adha adalah bagaimana manusia mampu menyembelih sifat tamak, egoisme, dan cinta dunia yang berlebihan dalam dirinya sendiri.
Karena sesungguhnya setiap manusia memiliki “Ismail”-nya masing-masing.
Ada orang yang terlalu mencintai hartanya hingga lupa berbagi. Ada yang terlalu mengejar jabatan sampai menghalalkan segala cara. Ada pula yang terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa kepada keluarga, agama, dan kemanusiaan.
Di situlah Idul Adha menjadi momentum refleksi. Bahwa hidup tidak hanya tentang memiliki, tetapi juga tentang melepaskan dengan ikhlas.
Di Madura, suasana Idul Adha memiliki warna tersendiri. Tradisi gotong royong masih terasa kuat. Warga bersama-sama membantu proses penyembelihan hewan kurban. Para pemuda mengangkut daging, ibu-ibu menyiapkan konsumsi, sementara anak-anak dengan wajah ceria menunggu pembagian daging.
Ada kebersamaan yang sulit ditemukan pada hari-hari biasa.
Hari Raya Kurban juga menjadi pengingat tentang pentingnya solidaritas sosial. Di hari itu, kaum miskin ikut merasakan kebahagiaan. Mereka yang jarang menikmati daging bisa makan bersama keluarga dengan penuh suka cita. Islam mengajarkan bahwa ibadah tidak boleh berhenti pada hubungan dengan Tuhan saja, tetapi juga harus menghadirkan manfaat bagi sesama manusia.