Tetapi di situlah letak kemuliaan Nabi Ibrahim. Ia tidak membantah perintah Tuhan. Meski hatinya hancur, ia tetap memilih taat.
Al-Qur’an menggambarkan momen itu dengan sangat menyentuh. Nabi Ibrahim menyampaikan mimpi tersebut kepada Ismail, bukan dengan paksaan, tetapi dengan kelembutan seorang ayah.
Dan jawaban Ismail menjadi salah satu kalimat paling menggetarkan dalam sejarah umat manusia.
“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Jawaban itu menunjukkan bahwa keimanan telah tumbuh dalam diri Ismail sejak kecil. Ia memahami bahwa cinta kepada Allah berada di atas segalanya, bahkan di atas nyawa sekalipun.
Bayangkan suasana saat itu. Seorang ayah menggenggam pisau dengan tangan gemetar. Seorang anak muda berserah diri dengan penuh ketenangan. Tidak ada teriakan. Tidak ada perlawanan. Yang ada hanyalah ketundukan total kepada Tuhan.
Tetapi Allah SWT Maha Pengasih. Ketika Nabi Ibrahim benar-benar membuktikan keikhlasannya, Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba. Dari peristiwa itulah lahir syariat kurban yang terus dijalankan umat Islam hingga sekarang.
Kisah tersebut sesungguhnya bukan tentang darah atau penyembelihan semata. Allah tidak membutuhkan daging maupun darah hewan kurban. Yang ingin diuji adalah hati manusia.
Seberapa besar manusia mampu ikhlas.