SUMENEP, MaduraPost - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan pelajar dari wilayah kepulauan Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.
Dua siswa asal Kecamatan Sapeken berhasil menembus seleksi Global Future Leaders Network (GFLN) 2026, sebuah program nasional yang berfokus pada pengembangan karakter dan kepemimpinan generasi muda.
Mereka adalah Agam Satriya Naraendra dan Radif Gibran Hamzah Prawira, keduanya berusia 17 tahun dan saat ini tercatat sebagai siswa kelas XI SMAN 1 Sapeken.
Keberhasilan tersebut menjadi pencapaian istimewa mengingat berbagai keterbatasan akses pendidikan dan informasi yang selama ini dihadapi pelajar di wilayah kepulauan.
Keikutsertaan kedua siswa itu merupakan hasil sinergi antara SKK Migas-KKKS Kangean Energy Indonesia (KEI) bersama pihak sekolah dalam membuka ruang pengembangan kapasitas generasi muda di daerah terluar.
Dari lima peserta yang mengikuti tahap seleksi awal, hanya Agam dan Radif yang berhasil lolos hingga tingkat nasional.
GFLN sendiri dikenal sebagai program yang dirancang untuk membentuk calon pemimpin masa depan melalui berbagai pembelajaran berbasis wawasan global, kolaborasi, dan penguatan karakter.
Setiap peserta diwajibkan melewati proses seleksi yang ketat sebelum dinyatakan berhak mengikuti kegiatan utama.
Selama berada di Jakarta pada 15 hingga 20 Juni 2026, para peserta menjalani beragam aktivitas, mulai dari sesi pembukaan, lokakarya intensif, hingga kunjungan edukatif ke sejumlah lembaga strategis seperti SKK Migas, Museum Nasional, Universitas Indonesia, dan fasilitas pengelolaan limbah modern.
Agam Satriya Naraendra mengaku bersyukur dapat menjadi bagian dari program tersebut. Menurutnya, pengalaman yang diperoleh selama mengikuti GFLN membuka perspektif baru yang sebelumnya sulit dijangkau oleh pelajar dari wilayah kepulauan.
"Saya senang sekali bisa ke Jakarta melalui program GFLN ini. Perjalanan kami cukup menantang, mulai dari Sapeken ke Pagerungan Besar, lalu terbang ke Surabaya hingga Jakarta. Saat tiba, gedung-gedung pencakar langit sangat menginspirasi kami," kata Agam, Rabu (24/6).
Ia menilai kesempatan seperti ini sangat berarti bagi anak-anak kepulauan yang jarang memiliki peluang mengikuti kegiatan berskala nasional. Karena itu, ia berharap program serupa dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak pelajar di Sapeken.
"Terima kasih kepada SKK Migas dan KEI yang telah memberikan kesempatan ini. Jarang sekali anak kepulauan seperti kami bisa merasakan pengalaman ke kota besar, apalagi sampai naik pesawat gratis dan mengikuti kegiatan nasional," tambahnya.
Sebelum mengikuti rangkaian kegiatan di Jakarta, para peserta terlebih dahulu menyelesaikan AFS Global Competence Certification yang berlangsung dalam empat sesi pembelajaran.
Program tersebut membekali peserta dengan pemahaman mengenai keberagaman, peran sebagai warga global yang aktif, serta penguatan kapasitas kepemimpinan.
Bagi Agam, metode pembelajaran yang diterapkan selama GFLN terasa berbeda karena lebih interaktif dan dekat dengan dunia anak muda. Berbagai materi disampaikan melalui pendekatan yang menyenangkan sehingga mudah dipahami peserta.
"Banyak pelajaran yang kami dapatkan, mulai dari kerja tim, riset masalah, perencanaan proyek, hingga manajemen sampah. Semua dikemas dengan cara yang menyenangkan seperti kuis, outing, dan mini games," tuturnya.
Ia juga menganggap pengalaman tersebut sebagai sarana evaluasi diri untuk terus meningkatkan kemampuan memimpin dan berkontribusi di lingkungan sekitar.
"Saya merasa masih banyak kekurangan. Tapi dari pengalaman ini, saya bisa introspeksi diri untuk menjadi pemimpin yang lebih baik ke depan," tambah Agam dengan semangat.
Di balik keberhasilannya, dukungan keluarga menjadi sumber motivasi yang tak terpisahkan. Selama mengikuti kegiatan di Jakarta, orang tuanya secara rutin menghubungi untuk memastikan kondisi dan aktivitas yang dijalaninya setiap hari.
"Orang tua selalu menanyakan kabar, bahkan setiap pagi bertanya kegiatan hari itu berlangsung," tukasnya.***