“Kalau dulu jangan manja jadi wartawan. Kita harus gesit dan dituntut kerja keras. Kalau sekarang sudah enak, karena teknologi sudah sangat membantu,” katanya.
Pria kelahiran Sumenep tahun 1971 itu mengaku banyak belajar dari sejumlah wartawan senior. Di antaranya Zainal Lenon, wartawan nasional, Deni Abu Said, serta Joko Subardi yang pernah berkiprah sebagai wartawan RRI. Ketiganya, kata Ibnu, kini telah meninggal dunia.
Karier jurnalistik Ibnu Hajar dimulai setelah dirinya menyelesaikan pendidikan di Jurusan Ushuluddin, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Setelah kembali ke Sumenep, ia menjadi kontributor media cetak Republika.
“Saya kemudian pindah ke Radio Nada Kemala. Saya sudah menjalani berbagai profesi di dunia media, mulai dari reporter sampai penyiar radio,” tuturnya.
Ibnu mengatakan, perkembangan teknologi telah mengubah wajah industri media secara drastis. Media cetak, radio, televisi hingga media online menghadapi perubahan pola konsumsi informasi masyarakat.
“Sekarang media sudah berkembang pesat. Radio juga banyak yang sudah tutup. Saya dulu di Nada FM sebelum akhirnya tutup,” ujarnya.
Di tengah perkembangan tersebut, Ibnu mengingatkan wartawan dan pengelola media agar memahami dua aspek penting dalam dunia jurnalistik, yakni manajemen perusahaan media dan manajemen pemberitaan.
“Dalam dunia jurnalisme ada dua hal yang harus diketahui. Pertama, rumah manajemen dan kedua, manajemen berita. Rumah manajemen media adalah perusahaan yang sedang dikelola, kemudian bagian berita fokus mengelola pemberitaan,” jelasnya.
Ia menyebut jumlah media di Kabupaten Sumenep yang tercatat di Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencapai sekitar 187 media, yang terdiri dari media online, cetak, radio dan televisi.