"20 persen kompetisi itu minimal harus berbahan daun siwalan. Itu menjadi bagian dari cara kami untuk memberdayakan UMKM, karena penyedia daun Siwalan di marketplace sampai saat ini hanya berada di Sumenep," ujar Hariri.
Selain bahan siwalan, panitia juga menggandeng pelaku UMKM Pasar Minggu untuk membuka stan selama rangkaian kegiatan berlangsung.
MEC 2026 dengan demikian tidak hanya berfokus pada pertunjukan di atas panggung. Aktivitas ekonomi masyarakat, promosi produk lokal dan keterlibatan pelaku kreatif turut ditempatkan sebagai bagian dari perhelatan tersebut.
Panitia juga membuka akses bagi konten kreator, fotografer, influencer dan media untuk mengabadikan kegiatan. Sebanyak 100 kartu identitas disiapkan bagi mereka yang akan melakukan peliputan atau dokumentasi.
"Gembiranya tahun ini kita buka undangan secara umum, bagi konten kreator, media, influencer, fotografer dan lainnya bagi yang berminat mengabadikan pagelaran MEC tahun ini," katanya.
"Tapi kita juga punya batasan dan aturan untuk mereka yang harus diikuti. Alhamdulillah, dari 100 ID Card yang kita siapkan sudah lebih dari 75 tersebar untuk hadir dalam kegiatan ini," kata Hariri lebih lanjut.
Melalui konsep tersebut, panitia berharap MEC tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga ruang untuk memperkenalkan budaya, pelaku usaha, serta wajah Kota Sumenep kepada pengunjung dari luar daerah.***