SUMENEP, MaduraPost - Peran bidan dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, dinilai sangat strategis, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah kepulauan dan daerah terpencil dengan keterbatasan akses layanan medis.

Di sejumlah kawasan yang jauh dari pusat fasilitas kesehatan, bidan kerap menjadi tenaga kesehatan pertama yang memberikan pertolongan kepada ibu hamil hingga proses persalinan.

Kondisi ini menjadikan keberadaan mereka sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan yang berhadapan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Moh. Anwar (RSUDMA) Sumenep, dr. Erliyati mengatakan, bahwa bidan memiliki posisi penting dalam menjaga keselamatan ibu dan bayi karena mendampingi masyarakat sejak masa kehamilan, persalinan, hingga masa nifas.

"Bidan adalah salah satu elemen paling penting dalam menekan angka kematian ibu dan bayi. Mereka hadir langsung di jantung masyarakat, mendampingi prosesnya sejak awal kehamilan hingga masa nifas selesai," ujar Erliyati, Rabu (17/6).

Menurutnya, kontribusi para bidan sangat besar dalam mendukung upaya penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB), khususnya di wilayah yang sulit menjangkau rumah sakit maupun fasilitas kesehatan lainnya.

Erliyati menjelaskan, pada sejumlah daerah dengan keterbatasan sarana kesehatan, bidan sering kali menjadi satu-satunya tenaga medis yang dapat diakses masyarakat ketika terjadi kondisi darurat terkait kehamilan dan persalinan.

Situasi tersebut, kata dia, masih ditemukan di sejumlah pulau kecil di kawasan Kangean, termasuk Pulau Tanjung Kiaok yang memiliki tantangan akses transportasi dan layanan kesehatan.

"Pada wilayah dengan keterbatasan akses transportasi dan layanan kesehatan, bidan otomatis menjadi ujung tombak tunggal. Oleh sebab itu, penguatan kapasitas serta pemerataan distribusi tenaga bidan di pelosok menjadi agenda yang sangat mendesak," cetusnya.