SUMENEP, Maduraopost.net - Arisya Dinda Nurmala Putri (20), salah satu perempuan yang menjadi orator aksi demo tolak Undang-Undang (UU) Omnibus Law di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur menjadi sorotan publik.
Perempuan semester V Fakultas Teknik Universitas Wiraraja (Unija) Sumenep ini seakan tak gentar akan isu miring yang menerpa dirinya. Misalnya, perempuan 'perokok' saat aksi demonstrasi berlangsung.
Dinda, sapaan akrab Arisya Dinda Nurmala Putri, lahir di Desa Talang, Kecamatan Saronggi, juga aktif di Korps Putri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Sumenep itu seolah memiliki hati baja, menjadi Kartini muda yang tidak lupa memperjuangkan perempuan milenial masa kini.
"Saya Kopri PMII Cabang Sumenep kenapa sampai hari ini bersikukuh memperjuangkan hak-hak rakyat Indonesia dalam menolak RUU Cipta Kerja yang terdapat pasal kontroversi di mana-mana, karena itu sangat merugikan kita sebagai kaum perempuan," kata Dinda, saat diwawancara awak media, Selasa (13/10).
Baginya, sebagai masyarakat Sumenep, tidak lupa dalam koridor perempuan, sepantasnya memiliki hak untuk bersuara. Apalagi, memperjuangkan hak-hak rakyat terutama buruh.
Meski begitu, isu miring perempuan 'perokok' malah menambah gigih tekat Dinda, akan perjuangan dirinya dalam menjadi lidah penyambung rakyat.
"Jadi hari ini yang dipermasalahkan di publik perihal tulisan yang mempersekusi beberapa kaum perempuan ikut massa aksi itu telah menentang dan menurunkan marwah seorang perempuan," ucapnya.
Mewakili perempuan seusianya, khusus bagi masa perempuan di Sumenep, dengan lantang seolah microfont mengantarkan Dinda menjadi aktivis perempuan pejuang kaum buruh dan tikaman oligarki.
"Terkait persoalan chaos terhadap aparat. Jadi bagi saya pribadi tidak pernah merasa takut sama sekali, karena hal kemarin itu bukan pertama kali bagi saya. Saya juga sering diikuti demo-demo lainnya dan sering orasi mengatasnamakan rakyat, dan menyampaikan aspirasi kepada dewan-dewan yang terhormat," tuang Dinda, dengan nada gemetar.
Baginya, dengan kekuatan Kartini milienial hari ini, kekuatan perempuan tidak berada pada paras cantik saja. Jika ingin mengubah nasib, dengan lantang dia katakan, perempuan mempunyai peran penting di dunia ini.
"Saya mengajak seluruh kaum perempuan di Sumenep baik itu mahasiswa ataupun emak-emak, mari untuk sadar. Perempuan mempunyai peran penting di dunia ini. Karena pada dasarnya perempuan itu juga mempunyai posisi di masing-masing elemen baik di kursi politik kursi sosial bahkan di kursi pemerintahan," paparnya.
Meski hujatan media sosial (Medsos) tengah mengikat, mempersekusi, bahkan mengalir diporos perjuangannya, perempuan 20 tahun ini menolak gertakan itu sebagai tangga kesuksesan.
"Terkait buliying dan penilaian yang nggak-nggak atau macam-macam diluar sana. Ketika saya di lapangan, saya anggap itu merupakan sebuah tangga utama bagi saya untuk menggapai tangga selanjutnya," timpalnya.
Secara psikis, Dinda pun memberikan tameng. Dirinya lebih menggiring keberhasilan tidak akan mengkhianati proses.
"Saya tegaskan hari ini, saya tidak merasa down, tetap bermental juang. Saat ada beberapa persoalan yang perlu di kawal," tegasnya.
Kunci sukses, kata dia, adalah perempuan yang tidak hanya menyelesaikan persoalan hidup di dapur, kasur, dan sumur. Akan tetapi, mereka yang tegas melawan hidup secara mengakar.
"Jadi perempuan di Sumenep harus berani speak up, berani maju, berani menampakkan diri, dan harus berani menjadi diri sendiri. Apalagi ketika hak-haknya yang dirampas," tuturnya.
Apalagi, sambungnya, perempuan mempunyai peran penting di dalam memperjuangkan hak-haknya secara pribadi.
"Dan hak-hak rakyat khususnya di Kabupaten Sumenep ini," tukasnya. (Mp/al/kk)