Ada juga yang sekadar duduk di tepi pantai, menunggu ombak membawa sesuatu ke kaki mereka, lalu mengaku baru saja menaklukkan samudra.
Kita semua tahu istilah itu. Wartawan bodrex. Istilah yang terdengar seperti lelucon, tapi sering terasa seperti luka.
Baca Juga:Menyasar Warga Tidak Punya e-KTP, Dispendukcapil Dengan Pemdes Karang Anyar Datangi Rumah Warga
Mereka datang bukan dengan daftar pertanyaan, melainkan daftar harga. Mikrofon berubah jadi kalkulator. Kamera kadang lebih mirip kantong plastik yang siap menampung apa saja.
Berita bukan lagi soal kepentingan publik, melainkan kepentingan perut. Dan yang paling menyedihkan, publik sering tak bisa membedakan mana wartawan sungguhan, mana yang sekadar memakai kostum profesi.