Ia mengungkapkan, bahwa film ini dibuat sebagai catatan kolektif bagi masyarakat, agar publik menyadari bahwa bahkan mereka yang bertugas menyampaikan kebenaran pun bisa menjadi korban sistem yang menindas.
Faridl menjelaskan, bahwa sejak September tahun lalu, ia bersama tujuh jurnalis lain di Jakarta harus menghadapi tekanan dari manajemen.
Baca Juga:Public Relation PT Sejahtera Jaya Alim Mix Angkat Bicara Terkait Kasus Mantan Kades Bancelok
Gaji yang sebelumnya Rp3 juta dipangkas hingga tinggal 60 persennya. Setelah itu, mereka diberhentikan tanpa proses yang adil.
"Kami tidak tinggal diam. Kami menolak tunduk pada kekuasaan pemilik media, termasuk Chairul Tanjung," tegasnya lantang.