SUMENEP, MaduraPost - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Madura, Jawa, melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) terus memperkuat pengembangan budidaya tembakau berbasis inovasi.
Langkah ini dilakukan untuk menjaga kualitas produksi sekaligus membantu petani beradaptasi dengan dampak perubahan iklim yang semakin tidak menentu.
Kepala DKPP Sumenep, Chainur Rasyid, melalui Kepala Bidang Sarana, Rina Suryanda, menjelaskan bahwa program inovasi tembakau yang mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur bertujuan mendorong petani menerapkan teknik budidaya yang lebih efektif guna menghasilkan daun tembakau berkualitas tinggi.
Upaya tersebut telah membuahkan hasil. Pada pelaksanaan program tahun sebelumnya, dua kelompok tani asal Kabupaten Sumenep berhasil mengukir prestasi dengan meraih juara pertama dan juara ketiga pada ajang inovasi tembakau tingkat Provinsi Jawa Timur.
"Tahun ini program inovasi itu kembali berlanjut. Kelompok tani yang menjadi juara pertama mendapatkan kegiatan lanjutan untuk mengembangkan hasil inovasi yang telah mereka lakukan," ujar Rina, Sabtu (27/6).
Salah satu inovasi yang kini dikembangkan berada di Kecamatan Rubaru. Para petani memanfaatkan kotoran kelelawar yang telah melalui proses fermentasi sebagai pupuk organik. Metode tersebut dinilai mampu meningkatkan mutu daun tembakau sekaligus menekan ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Selain mendukung inovasi, DKPP juga memperkuat pendampingan kepada petani melalui penyuluh pertanian. Pendampingan itu difokuskan pada strategi menghadapi cuaca ekstrem, seperti pembuatan bedengan yang lebih tinggi serta pengaturan saluran drainase agar tanaman tidak mudah terdampak genangan saat hujan.
Rina juga meminta petani tidak ragu berkoordinasi dengan penyuluh apabila menghadapi persoalan selama masa tanam. Menurutnya, sinergi antara penyuluh dan petani menjadi faktor penting untuk menjaga produktivitas tembakau di tengah kondisi iklim yang berubah-ubah.
"Harapan kami seluruh petani tembakau di Kabupaten Sumenep bisa mendapatkan hasil yang maksimal, baik dari sisi kualitas, produksi maupun harga jual," tuturnya.***